Laman

Kamis, 26 April 2012

Sumberdaya, Penduduk dan Pembangunan Indonesia


Tiba-tiba saya teringat matakuliah Geografi Regional Indonesia. Usai teman saya mempresentasikan letak geologis Indonesia terhadap potensi sumber daya alam (SDA) terbesit pertanyaan dalam pikiran klasik mahasiswa ‘bagaimana bisa negara kaya tetapi penduduknya serba sengsara?’ Pertanyaan yang saya ajukan pada mereka adalah ‘adakah pengaruh kekayaan dan potensi SDA pada suatu daerah terhadap kemakmuran penduduknya?’ Banyak daerah di Indonesia yang berlimpah sumber daya alam akan tetapi keadaan masyarakat bertolak belakang dari keadaan itu. Kekayaan mereka diperas, baik oleh pusat maupun asing. Yang tersisa hanyalah kerusakan lingkungan dan kemelaratan. Saat mereka menjawab, dosen saya berkata bahwa video yang beliau miliki akan menjawab pertanyaan saya. Singkatnya video tersebut menceritakan irosinya bangsa Indonesia. Menggunungnya emas di Papua, terhamparnya pantai sepanjang nusantara, melimpahnya kekayaan laut dan tambangnya menjadikan Indonesia negara terkaya di dunia, begitu paparan dalam video tersebut. Melimpahnya kekayaan yang dimiliki Indonesia tidak tercermin dari kesejahteraan masyarakat.
Selain kaya dengan sumber daya alam, Indonesia juga mempunyai kekayaan sumber daya manusia. Kedua hal ini merupakan modal bagi suatu negara untuk menjadi besar dan maju. Indonesia berada di urutan keempat untuk negara berpopulasi terbesar, setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Populasi penduduknya mencapai 237,6 juta orang pada 2010 (Tempo, 14 Juli 2011). Jumlah penduduk yang besar seharusnya menjadi suatu anugerah karena dapat melakukan pembangunan lebih cepat dan efektif. Ditambah lagi sirkulasi produksi-distribusi-konsumsi akan lebih efektif dan menguntungkan. Tetapi sekarang pertanyaannya adalah bagaimana keadaan pembangunan di Indonesia?
Sumitro (1994) mendefinisikan pembangunan sebagai suatu transformasi dalam arti perubahan struktur ekonomi. Perubahan struktur ekonomi diartikan sebagai perubahan dalam struktur ekonomi masyarakat yang meliputi perubahan pada perimbangan keadaan yang melekat pada landasan kegiatan ekonomi dan bentuk susunan ekonomi. Proses pembangunan di Indonesia saat ini sangat ironis. Penduduk dengan jumlah hampir 238 juta jiwa bukan sebagai pendukung pembangunan, malah menjadi faktor penghambat. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan apa sebenarnya masalah pembangunan di Indonesia?
Inti permasalahan pembangunan ekonomisi nasional terletak pada tingginya disparitas (kesenjangan) antarwilayah. Hal ini terlihat dari segi kegiatan ekonomi, pembangunan infrastruktur, sampai tingkat kemiskinan yang begitu timpang (Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Armida Alisjahbana, 2010). Kalau lihat lebih detail, pada tingkat regional provinsi, kabupaten, dan kota ada disparitas. Di satu sisi, banyak daerah yang mencapai peningkatan ekonomi signifikan, tetapi di lain pihak banyak daerah yang masih jauh, dispasritas sangat tinggi. Adanya disparitas tersebut terjadi karena aktivitas ekonomi yang juga timpang. Di kota yang menjadi pusat bisnis, segala sarana dan prasarana tergarap dengan baik. Akan tetapi, di daerah yang bukan pusat bisnis, sarana dan prasarana tidak tergarap. Hal ini kemudian yang membuat aktivitas ekonomi jadi rendah di banyak daerah. Aktivitas ekonomis rendah, tingkat kemiskinan pun menjadi tinggi, ujar Armida.
Jumlah penduduk yang terpusat di pulau jawa membuat terjadi ketimpangan jumlah penduduk. Ketimpangan antara pulau jawa dan luar jawa sama-sama membuat masalah. Kepadatan yang tinggi di pulau jawa membuat persaiangan dalam mendapat pekerjaan menjadi besar. Alhasil, banyak pengangguran yang tercipta, tingkat kriminalitas meningkat, dan timbul banyak permukiaman kumuh. Kemiskinan terjadi karena ketidakmampuan mendapatkan pekerjaan atau menciptakan pekerjaan. Sementara di luar jawa, kemiskinan terjadi akibat keterbelakangan. Ketidaklengapan sarana dan prasarana menjadikan daerah di luar jawa sulit berkembang. Bahkan beberapa daerah tetap terpencil karena jaringan transportasi dan komunikasi belum dapat menembusnya.
Gurnito Dwidagdo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar